
Lha apa hubungannya dengan g+(google ples) ..?
Jawabnya ialah, ada rekan saya pengguna g+ baru, dan mempunyai address saya dan TANPA ada konfirmasi yang saya setujui, tiba-tiba dapat mengirim "status" dan hal itu masuk dalam inbok surel saya, walhasil kejadiannya seperti fesbuk dulu.
Nah, saya belum menjadi pengguna g+, dan saya belum tahu teknologinya, saya hanya minta dari agan-agan sekalian jikalau menjadi pengguna g+, mungkin bisa di explore, kalau ada "settingan" kira-kira berbunyi "Dont sent lebay status to my friend in my contact address ", mohon diaktifkan.
Nah bagaimana jika agan-agan yang juga sumpek dapet notifikasi dan ingin tidak dikirimi notifikasi tersebut. Berikut caranya:
1. Klik aja salah satu status teman lebay kita pengguna g+.
2. Cari kata berikut :
You have received this message because lebay_person shared it with emailipun_panjenengan@gmail.
4. Pastikan agan memilih opsi berikut :
Unsubscribe emailipun_panjenengan@gmail.
5. Klik save.
Sekian dari saya, dan saya tidak bermaksud melarang agan untuk menjadi pengguna g+.
Saturday, July 16, 2011
Mohon perhatian untuk pengguna g+(google ples)
Sunday, June 19, 2011
What is Community eniwe?
Komunitas adalah Sekumpulan manusia*
Komunitas adalah kesamaan minat,
Komunitas adalah kebutuhan sosial,
Komunitas adalah kemajemukan,
Komunitas adalah SATU tujuan,
Nah, sehingga bagi saya pribadi, keberadaan komunitas sangatlah pengting mengingat komunitas merupakan tempat untuk bertemu orang-orang yang mempunyai kesamaan minat, sebagai konsekuensi kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai kebutuhan sosial. Tapi.., ada tapinya(baca:perlu diingat, dipahami, dan dimaklumi), yaitu merupakan kodrat juga kalau wajah kita tidak sama, warna rambut beda, sampai isi dompet pun berbeda pula, untuk itu wajar kalau mempunyai "pendapat"(baca:isi hati tulus dan terdalam) juga berbeda, apalagi distro, sangatlah dimungkinkan beda, oleh karena itu pasti adanya kemajemukan.
Tapi.., ada tapinya lagi(baca:perlu diingat, dipahami, dan dimaklumi), yaitu orang yang ingin bergabung dengan komunitas adalah orang-orang hebat, karena :
1. Meluangkan sesuatu yang berharga(waktu, pemikiran, tenaga dan isi dompet) demi SATU tujuan komunitas.
2. Mempunyai kesamaan minat, dan berusaha mencuci otak(baca: mengajak) orang lain agar mempunyai minat sama, karena yaqin(mohon baca kata"yakin" dengan menelan ludah .red) , dan se-yaqinnya bahwa minat ini sangat lah baiq-sebaiqnya, dimana ajakan itu demi SATU tujuan komunitas.
3. Mempunyai sifat sosial yang tinggi, yaitu selalu berbagi atas sesuatu yang berharga (waktu, pemikiran, tenaga dan isi dompet), ke anggota komunitas lainnya demi SATU tujuan komunitas.
4. Mempunyai sesuatu yang berharga(waktu, pemikiran, tenaga dan isi dompet) yang berbeda-beda tiap anggota komunitas, tapi mempunyai kesamaan sama yaitu SATU tujuan komunitas yang sama.
Nah intinya Komunitas adalah SATU tujuan,
Nah kalau tujuan kita sama, mengapa kita membuat komunitas yang berbeda beda?
Pertanyaan:"Apa kesamaan komunitas pecinta keamanan dan komunitas pecinta teror?"
Jawabnya:" sama-sama mempunyai tujuan sama, yaitu satu mencintai keadaan aman, satu mencintai terong.., eh teror".
Pertanyaan:"Apa perbedaan komunitas pecinta keamanan dan komunitas pecinta teror?"
Jawabnya:" Cara untuk mencapai tujuan yang berbeda"
Jadi apapun namanya komunitas pastilah mempunyai SATU tujuan yang sama, cuman berbeda cara mencapai tujuan itu.
(bersambung)
Ok.., show me damn more .....Sunday, June 05, 2011
I Love Monday ....
Well .., Saya sangat menikmati senin ini dan harus disyukuri, bagaimana tidak, ketika yang lain pada sibuk bekerja dengan berangkat pagi-pagi sekali ke kantor masing-masing, saya justru pergi dengan celana pendek dan kaos oblong untuk nongkrong di warkopel(warung kopi dan pecel) dekat alun-alun sidoarjo, yeah..., tapi kita tidak boleh kalah bersaing dengan yang ke kantor masing-masing tadi.... Jeglek! sesampai di warung, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan??? #$%^$@!! gawat.
Ok ok.. jangan panik gan.., ane keluarin juruske satu dari 3 M, Mulai dari yang kecil. Ok deh ane list dulu:
1. Nulis yang harus diselesaikan (Lha ini yang sedang dikerjakan).
2. Nyium kening istri dan anak ....(sudah sebelum berangkat ke warung).
3. Sarapan pagi...(ini pesanan pecelnya barusan datang)
6. Digimagz Joxer bagaimana ?(Hari ini harus posting di Milist)
7. Buku pengembang BlankOn bagaimana? (minggu ini harus masuk ke meja editor)
8. Melanjutkan Tutorial SMK 3 Perkapalan bagaimana?(tanggal 8 besok harus di publish)
dan yang tidak kalah penting yaitu thesis agan bagaimana ? ... arrgh..., arrgh.., sudah banyak yang dilakukan .., ok ok, ayook dikerjakan..., sudah tahu apa yang dilakukan senin pagi ini ..., srup..srup.., ngopi dulu ...

Tuesday, April 26, 2011
Teliti sebelum meniti ....

Dear rekan..., Saya hanya sharing saja, bukan sharing tips ataupun suka sharing, memang nanti apa yang saya ceritakan barangkali bukan merupakan "urusan-urusan kita" saat ini, tapi nantinya kita akan mendengar juga peristiwa berikut, kebetulan yang mengalami "mantan siswa" saya(Siswa saya waktu dulu ngajar di sebuah SMA negeri), tapi bila hal ini dikaitkan dengan cerita bu eka tentang tikus, setidaknya saya harus merasa prihatin dengan apa yang dialami siswa saya.
Ok ceritanya begini :
Sebut saja DP (Nama inisial sebenarnya siswa saya). Anaknya pintar, rajin, selalu mau belajar apa saja, masuk Jurusan IPA dan seingat saya selalu juara kelas. Saat masih di bangku SMA Saya ajari dia creemping(pasang konektor RJ45) cross dan straight, eh ternyata hasilnya bagus. Jadi deh dia saya hire untuk membantu saya di sebuah project untuk membangun sebuah LAN di sebuah Lab Komputer. Sampai akhirnya dia lulus SMA. Saya tanya mau kuliah dimana ? DP hanya diam, hanya wajahnya yang menjawab "saya tidak tahu pak". OK saya tidak bertanya lagi sampai setelah 6 bulan dia lulus, dia main ke rumah saya dan tentu saja pertanyaan saya yang muncul setelah "Apa kabar mu?" yaitu "Kamu kuliah dimana ?" Dari senyum berubah jadi sedih, saya tidak kuliah pak. Orang tua saya tidak ada biaya". Tapi saya menabung pak. Insya ALLAh tahun depan saya Kuliah. Saya tanya:"Jadi selama ini kerja?". Jawabnya:"ya pak. Alhamdulillah saya menabung dari jasa service komputer dan les, dan client saya ya teman-teman pak. "
Setelah itu DPn kuliah di sebuah PTS, yang sayangnya dia tidak ditrima di sebuah PTN(katanya, tetapi dari versi teman-temannya yang saya dengar dia tidak diterima di PTN ya karena tidak daftar SMPTN karena tidak mampu beli formulir). OK nah ini yang membuat saya prihatin. Beberapa hari yang lalu DP bilang bahwa Program studinya tidak terakreditasi. Kampusnya yang tempat dia belajar, dan membayarnya dengan keringat sendiri, ternyata mempunyain status tidak terakreditasi dan rencananya dia akan lulus tahun depan terancam memiliki ijazah dengan program studi tidak terakreditasi atau bahkan lebih parah. yaitu ditutup[0]. Sekali lagi saya prihatin.
Disini saya tidak berusaha mencari ini salah siapa?, Saya yakin pihak penyelenggara pendidikan, sudah berusaha dalam melakukan akreditasi sesuai borang akreditasi(Saya pernah membantu sebuah PT untuk mengurus akreditasi), Saya juga pernah menjadi assessor(BAS-Kota), sehingga saya tahu item yang harus dipersiapkan untuk mengisi Evaluasi Diri dan dokumen penunjang sangat kompleks, dan biasanya dikerjakan dalam bentuk tim dan sampai lembur tentunya.
Sebagai orang informatika, sebetulnya proses akreditasi ini "bisa dibuat mudah", jikalau sudah ada sistem seperti facebook, dimana setiap kampus mempunyai akun/profile masing-masing, dan mengisi proses/isian secara OL, dengan dokumen dikirim/upload secara paperless(mungkin ada priviledges disini) dan setiap akun satuan pendidikan anggap saja Univeritas, terdapat friend berisi program studi dan setiap Prodi terdapat friends(isinya Dosen dan mahasiswa), dan dengan sedikit grid computing dan semantic, sepertinya dapat membantu khalayak ramai?(masyarakat) dalam memperoleh informasi Status Akreditasi Prodi ini apa?, Siapa yang ngajar? Cakep nggak ? :D. Sehingga transparan disini. Jika masyarakat tidak menenmukan hal yang sesuai, dapat melaporkan hal tersebut(seperti report abuse di fesbuk), masyarakat menjadi public assesor di sini.
Apakah pemerintah/kemdiknas tidak memikirkan hal itu? saya jawab sudah[1]. Karena tahun kemaren saya ada kesempatan "jalan-jalan dibayari" , untuk ngublek-ngublek data dalam rangka Riset Birokrasi Internal Kemdiknas, dari jalan-jalan tersebut tugas saya sebagai tim ialah mengorganisasi data, dimana untuk kebutuhan Decision Maker, dalam mengambil keputusan misalnya: Ada dana dari APBD sekian T rupiah, dibagi kemana aja nih ? , Kenapa di PT X ini mendapat dana sekian, PT mana yang belum mendapat bantuan, dan bla- bla .., rekan-rekan pasti tahu sebelum ini menjadi sistem, tentunya dibutuhkan data yang terpusat, distributed dan pokoknya data itu penting. Akan tetapi dalam mendapatkan data(pengalaman kami sebagai tim) sangat susah tidak semudah, walaupun kita mengantongi "surat sakti", untuk mendapatkan sample data(ngopy beberapa record saja) sangat susah, dan batu sandungan itulah yang dinamakan "birokrasi". Mungkin "birokrasi yang perlu dibenahi" inilah yang menimpa Sistem Pendidikan di negeri tercinta ini. So melalui cuap-cuap gak bermutu ini, saya hanya berharap jikalau rekan-rekan(who knows?), berkesempatan menjadi "Decission Maker", please benahi sesuai jalan pemikiran orang informatika yaitu : 0 dan 1,
if "Prosedur ini bisa dipermudah" then
mudahkanprosedur= 1;
Else if "Peluang adanya praktek korupsi" then
birokrasimbulet=0;
End
Sekian, semoga DP dipermudah urusannya dan bagi kita semua semoga menjadikan syukur karena Alhamdulillah kita tidak mengalaminya.
Regards,
Irwan Alnarus Kautsar.
Links:
[0] : http://edukasi.kompas.com/read/2009/12/24/1735103/Program.Studi.Tidak.Terakreditasi.Segera.Ditutup..
[1] : http://pdpt.dikti.go.id/
Picture courtesy of this:
Wednesday, January 05, 2011
Don't have Email ? Dont worry.
A Jobless man applied for the position of 'office boy' at Microsoft.
The HR manager interviewed him then watched him cleaning the floor as a test.
'You are employed' he said.
'Give me your e-mail address and I'll send you the application to fill in, as well as date when you may start.'
The man replied 'But I don't have a computer, neither an email'.
'I'm sorry', said the HR manager. If you don't have an email, that means you do not exist. And who doesn't exist, cannot have the job.'
The man left with no hope at all. He didn't know what to do, with only $10 in his pocket.
He then decided to go to the supermarket and buy a 10Kg tomato crate.
He then sold the tomatoes in a door to door round.
In less than two hours, he succeeded to double his capital.
He repeated the operation three times,and returned home with $60.
The man realized that he can survive by this way, and started to go everyday earlier, and return late. Thus, his money doubled or tripled everyday.
Shortly, he bought a car, then a truck, and then he had his own fleet of delivery vehicles.
5 years later, the man is one of the biggest food retailers in the US.
He started to plan his family's future, and decided to have a life insurance.
He called an insurance broker, and chose a protection plan.
When the conversation was concluded the broker asked him his email.
The man replied,'I don't have an email.'
The broker answered curiously,
'You don't have an email, and yet have succeeded to build an empire. Can you imagine what you could have been if you had an e mail?!!'
The man thought for a while and replied, "Yes, I'd be an office boy at Microsoft !!"
============================
hope this motivate ....
source : story from friend. :D
Saturday, January 01, 2011
Saya Pendidik, bukan pengajar.

Wow this book shoot me a lot. Buku The Ethos of Sakura -nya pak robandi sangat menembak kebuntuan, keraguan di kepala saya.
Awalnya selalu bertanya. Salahkah saya mengedepankan pembangunan karakter ? Salahkah jika saya punya prinsip, Ilmu yang saya ajar nomor 2, tapi karakter kejujuran,ketekunan no 1 ? Pengajaran nomor 2, pendidikan nomor satu. sesuai wejangan pak robandi, mengajar itu menjadikan orang pintar, mendidik menjadikan orang baik.
OK, saya mempunyai metode sedikit radikal. Cerita ini berawal ketika saya masih menjadi pengajar di sebuah SMA negeri di surabaya, saya menawarkan kepada peserta didik, yaitu jika mau mendapat nilai baik, silahkan pilih dua opsi, pertama minta langsung kepada saya nilai 100 tanpa imbalan apapun, maka saya beri nilai 100, sehingga konsekuensinya:
1. Tidak perlu mengikuti pelajaran. Toh percuma karena sudah mendapatkan nilai 100.
2. Tidak perlu menuliskan jawaban apapun saat ujian. ya percuma juga karena sudah mendapatkan nilai 100.
3. Bahkan tidak perlu datang saat UTS atau UAS. Toh juga percuma karena sudah mendapatkan nilai 100.
Opsi kedua yaitu : peserta didik hanya perlu berperilaku jujur, jika tidak bisa dalam suatu test/ujian, ya sudah diisikan apa adanya, sehingga ketika mendapatkan nilai SKM dibawah SKM maka:
1. Peserta didik tersebut kita interview, susahnya mana ? dimana?
2.Training ulang layaknya remidi seharusnya. Karena remidi tidak sama dengan tes ulang.
3. Di lakukan ulangan ulang dengan soal berbeda atau sama.
Ya tentunya opsi kedua tersebut memberatkan dan menambah beban kerja kita sebagai pendidik, saya rasa itu worth it, jika melihat apa yang anak didik kita dapat, pengetahuan dapat, nilai dapat dan yang penting, karakter kejujuran dan ketekunan dapat. Baik disisi peserta didik dan tentu pendidik. sehingga rekan pendidik lain heran jika saya meninggalkan siswa disaat memberikan ulangan:"kok tidak dijaga pak..?", dikarenakan tidak melakukn pengawasan. Saya jawab:"Saya lebih percaya peserta didik saya, lebih dibandingkan wakil saya di senayan. Saya pendidik, bukan pengajar." Bagaimana dengan rekan sekalian ?
NB: Terima kasih untuk kedua kalinya kepada pak cahyo, karena mengingatkan saya bahwa saya tidak sendiri.
Images From : http://www.esxinc.com/ESX/continuing-education-management.asp


