
Dear rekan..., Saya hanya sharing saja, bukan sharing tips ataupun suka sharing, memang nanti apa yang saya ceritakan barangkali bukan merupakan "urusan-urusan kita" saat ini, tapi nantinya kita akan mendengar juga peristiwa berikut, kebetulan yang mengalami "mantan siswa" saya(Siswa saya waktu dulu ngajar di sebuah SMA negeri), tapi bila hal ini dikaitkan dengan cerita bu eka tentang tikus, setidaknya saya harus merasa prihatin dengan apa yang dialami siswa saya.
Ok ceritanya begini :
Sebut saja DP (Nama inisial sebenarnya siswa saya). Anaknya pintar, rajin, selalu mau belajar apa saja, masuk Jurusan IPA dan seingat saya selalu juara kelas. Saat masih di bangku SMA Saya ajari dia creemping(pasang konektor RJ45) cross dan straight, eh ternyata hasilnya bagus. Jadi deh dia saya hire untuk membantu saya di sebuah project untuk membangun sebuah LAN di sebuah Lab Komputer. Sampai akhirnya dia lulus SMA. Saya tanya mau kuliah dimana ? DP hanya diam, hanya wajahnya yang menjawab "saya tidak tahu pak". OK saya tidak bertanya lagi sampai setelah 6 bulan dia lulus, dia main ke rumah saya dan tentu saja pertanyaan saya yang muncul setelah "Apa kabar mu?" yaitu "Kamu kuliah dimana ?" Dari senyum berubah jadi sedih, saya tidak kuliah pak. Orang tua saya tidak ada biaya". Tapi saya menabung pak. Insya ALLAh tahun depan saya Kuliah. Saya tanya:"Jadi selama ini kerja?". Jawabnya:"ya pak. Alhamdulillah saya menabung dari jasa service komputer dan les, dan client saya ya teman-teman pak. "
Setelah itu DPn kuliah di sebuah PTS, yang sayangnya dia tidak ditrima di sebuah PTN(katanya, tetapi dari versi teman-temannya yang saya dengar dia tidak diterima di PTN ya karena tidak daftar SMPTN karena tidak mampu beli formulir). OK nah ini yang membuat saya prihatin. Beberapa hari yang lalu DP bilang bahwa Program studinya tidak terakreditasi. Kampusnya yang tempat dia belajar, dan membayarnya dengan keringat sendiri, ternyata mempunyain status tidak terakreditasi dan rencananya dia akan lulus tahun depan terancam memiliki ijazah dengan program studi tidak terakreditasi atau bahkan lebih parah. yaitu ditutup[0]. Sekali lagi saya prihatin.
Disini saya tidak berusaha mencari ini salah siapa?, Saya yakin pihak penyelenggara pendidikan, sudah berusaha dalam melakukan akreditasi sesuai borang akreditasi(Saya pernah membantu sebuah PT untuk mengurus akreditasi), Saya juga pernah menjadi assessor(BAS-Kota), sehingga saya tahu item yang harus dipersiapkan untuk mengisi Evaluasi Diri dan dokumen penunjang sangat kompleks, dan biasanya dikerjakan dalam bentuk tim dan sampai lembur tentunya.
Sebagai orang informatika, sebetulnya proses akreditasi ini "bisa dibuat mudah", jikalau sudah ada sistem seperti facebook, dimana setiap kampus mempunyai akun/profile masing-masing, dan mengisi proses/isian secara OL, dengan dokumen dikirim/upload secara paperless(mungkin ada priviledges disini) dan setiap akun satuan pendidikan anggap saja Univeritas, terdapat friend berisi program studi dan setiap Prodi terdapat friends(isinya Dosen dan mahasiswa), dan dengan sedikit grid computing dan semantic, sepertinya dapat membantu khalayak ramai?(masyarakat) dalam memperoleh informasi Status Akreditasi Prodi ini apa?, Siapa yang ngajar? Cakep nggak ? :D. Sehingga transparan disini. Jika masyarakat tidak menenmukan hal yang sesuai, dapat melaporkan hal tersebut(seperti report abuse di fesbuk), masyarakat menjadi public assesor di sini.
Apakah pemerintah/kemdiknas tidak memikirkan hal itu? saya jawab sudah[1]. Karena tahun kemaren saya ada kesempatan "jalan-jalan dibayari" , untuk ngublek-ngublek data dalam rangka Riset Birokrasi Internal Kemdiknas, dari jalan-jalan tersebut tugas saya sebagai tim ialah mengorganisasi data, dimana untuk kebutuhan Decision Maker, dalam mengambil keputusan misalnya: Ada dana dari APBD sekian T rupiah, dibagi kemana aja nih ? , Kenapa di PT X ini mendapat dana sekian, PT mana yang belum mendapat bantuan, dan bla- bla .., rekan-rekan pasti tahu sebelum ini menjadi sistem, tentunya dibutuhkan data yang terpusat, distributed dan pokoknya data itu penting. Akan tetapi dalam mendapatkan data(pengalaman kami sebagai tim) sangat susah tidak semudah, walaupun kita mengantongi "surat sakti", untuk mendapatkan sample data(ngopy beberapa record saja) sangat susah, dan batu sandungan itulah yang dinamakan "birokrasi". Mungkin "birokrasi yang perlu dibenahi" inilah yang menimpa Sistem Pendidikan di negeri tercinta ini. So melalui cuap-cuap gak bermutu ini, saya hanya berharap jikalau rekan-rekan(who knows?), berkesempatan menjadi "Decission Maker", please benahi sesuai jalan pemikiran orang informatika yaitu : 0 dan 1,
if "Prosedur ini bisa dipermudah" then
mudahkanprosedur= 1;
Else if "Peluang adanya praktek korupsi" then
birokrasimbulet=0;
End
Sekian, semoga DP dipermudah urusannya dan bagi kita semua semoga menjadikan syukur karena Alhamdulillah kita tidak mengalaminya.
Regards,
Irwan Alnarus Kautsar.
Links:
[0] : http://edukasi.kompas.com/read/2009/12/24/1735103/Program.Studi.Tidak.Terakreditasi.Segera.Ditutup..
[1] : http://pdpt.dikti.go.id/
Picture courtesy of this:
Tuesday, April 26, 2011
Teliti sebelum meniti ....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 komentar:
alamat blog Pak Ersis
http://www.webersis.com
gabung di facebooknya aja... tiiap hari beliau menulis
Ersis Warmansyah Abas -- akun FB nya... karena full friend listnya... bilang dari temennya hmcahyo malang... insyaAllah di deletkan yang nggak aktif... ganti sampean
Post a Comment